UDARA pagi Mpumalanga terasa segar, embusan angin savana membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam.
Namun di dalam ruang konferensi yang berlapis kaca itu, suasana justru dipenuhi percakapan serius, perdebatan sopan, dan tatapan yang penuh perhitungan.
Di sana, Wakil Menteri Pariwisata Indonesia, Ni Luh Puspa, duduk tegak, sesekali mencatat, sesekali mengangguk, menyimak kata demi kata yang meluncur dari para delegasi negara anggota G20.
Perempuan asal Bali itu hadir bukan hanya sebagai utusan resmi pemerintah, tetapi juga sebagai wajah Indonesia di panggung internasional yang tengah membicarakan masa depan pariwisata dunia.
“Indonesia berkomitmen mendukung pengembangan pariwisata bersama negara-negara G20 serta mempererat kerja sama antarnegara, utamanya sesuai dengan output Presidensi G20 Afrika Selatan,” ujarnya dalam sesi pleno, Kamis, 11 September 2025.
G20 Jadi Panggung Dialog Pariwisata Berkelanjutan Dunia
Presidensi G20 Afrika Selatan kali ini mengangkat empat isu besar yang terasa begitu relevan dengan zaman.
Ada pembahasan tentang kecerdasan buatan dan inovasi untuk startup, pembiayaan pariwisata berkeadilan dan berkelanjutan.
Juga konektivitas udara demi kelancaran perjalanan, serta penguatan ketahanan destinasi pariwisata agar tetap inklusif dan berkelanjutan.
Di antara isu-isu itu, Indonesia membawa misi khusus: mempertemukan kepentingan negara maju dengan negara berkembang dalam bingkai pariwisata berkelanjutan.
“Sebagai ekonomi besar yang berasal dari dunia berkembang, Indonesia memiliki posisi unik sebagai jembatan,” ujar Ni Luh Puspa.
Pernyataan ini sejalan dengan pandangan bahwa Indonesia memang punya peran strategis di forum global.
Indonesia bisa memanfaatkan posisi sebagai middle power, bukan hanya penerima kebijakan, tapi turut mengarahkan diskursus internasional.
Antara Diplomasi Formal Dan Agenda Bilateral Sepanjang Forum
Di sela forum, Ni Luh Puspa juga dijadwalkan bertemu dengan sejumlah menteri pariwisata dari negara sahabat.
Pertemuan bilateral itu menjadi ruang untuk menyingkap peluang kerja sama baru.
Dari peningkatan jumlah penerbangan langsung, investasi di sektor perhotelan, hingga program bersama untuk mempromosikan destinasi baru.
Salah satu isu yang disebutkan adalah upaya menarik investasi pariwisata yang lebih merata.
Menurut data Badan Pusat Statistik, sektor akomodasi dan makan-minum di Indonesia pada 2024 tumbuh 8,2 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Angka ini menjadi magnet bagi investor asing. Namun, persoalan aksesibilitas—terutama konektivitas udara—masih menjadi batu sandungan besar.
Hal ini pula yang masuk dalam prioritas G20: memperbaiki jalur udara agar perjalanan lintas negara semakin mudah.
Antara Ambisi Global dan Tantangan Domestik Indonesia
Partisipasi Indonesia di forum internasional tentu memberi keuntungan diplomasi, tetapi tantangan di dalam negeri tetap membayangi.
Ketergantungan pada pariwisata berbasis alam dan budaya, yang rentan terhadap perubahan iklim maupun fluktuasi ekonomi global, menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Data dari Kementerian Pariwisata menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada semester pertama 2025 mencapai 7,8 juta, naik 15 persen dari tahun sebelumnya.
Namun, distribusi kunjungan masih terpusat di Bali, meninggalkan banyak destinasi lain yang belum tergarap optimal.
Ekonom pariwisata dari Universitas Udayana, Made Bayu, menilai peran Indonesia di G20 harus dibarengi dengan keberanian mengubah wajah pariwisata dalam negeri.
“Kalau hanya bicara konsep, kita akan tertinggal. Kita butuh implementasi nyata di lapangan,” ujarnya.
Menyambungkan Kepentingan Global dengan Aspirasi Lokal
Kehadiran Indonesia dalam forum G20 Tourism Ministers’ Meeting bukan sekadar formalitas diplomatik.
Melainkan juga uji konsistensi terhadap komitmen pariwisata berkelanjutan. Indonesia ditantang membuktikan apakah retorika di panggung global akan terwujud di tanah sendiri.
Di ujung pidatonya, Ni Luh Puspa menegaskan kembali posisi Indonesia: “Kita mendorong dialog yang inklusif, mencari solusi bersama, dan memastikan pariwisata memberi manfaat bagi semua.”
Sebuah pernyataan diplomatis, namun menyimpan pesan kuat: dunia pariwisata tidak lagi bisa dipandang sebagai sektor pelengkap.
Melainkan sebagai ruang penting yang menyatukan diplomasi, ekonomi, dan keberlanjutan.****







