Bisnis

PT BSI Buktikan Tambang Tak Melulu Berbahaya

Direktur PT BSI, Boyke Abidin (ban)

Kabarbali.com – Di beberapa tempat, keberadaan perusahaan tambang selalu berseberangan dengan kepentingan masyarakat sekitar. Bahkan tak jarang konflik antara tambang versus warga bak persoalan tak terurai.

Beragam alasan dikemukakan, mulai mengancam pendapatan warga, hingga membahayakan hidup dan kehidupan masyarakat. Tak hanya kepada manusia, tambang juga sering dituding membahayakan lingkungan. Benarkah demikian?

BACA JUGA: Prabowo ‘Gerilya Politik’ di Bali, Ini Agendanya

Keberadaan tambang sejatinya tak melulu bertolak belakang dengan keberadaan masyarakat sekitar. Bahkan, bisa selaras dan memberikan manfaat lebih bagi warga sekitar.

Pun halnya dengan kondisi lingkungan, sepanjang bisa dikelola dengan baik, tambang tak melulu menjadi kegiatan yang merusak dan membahayakan lingkungan.

BACA JUGA: Dana BKK Badung Tak Cair, Tokoh Nusa Penida Geruduk Suwirta

Salah satunya seperti yag dilakukan oleh PT Bumi Suksesindo (BSI) sebagai pengelola tambang emas dan mineral di Tumpang Pitu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Perusahaan yang ditetapkan sebagai obyek vital nasional pada tahun 2016 menjalankan usahanya secara seimbang antara kepentingan masyarakat, pemerintah dan lingkungan.

BACA JUGA: Puspa Negara: Tertibkan Praktik ‘Jual Beli Kepala Murah’

Direktur PT BSI, Boyke Abidin menjelaskan, jika dikelola dengan baik dan benar serta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, tambang justru memberi nilai tambah kepada masyarakat dan pemerintah.

Pada saat sama, kondisi lingkungan dapat terjaga dengan baik “Tambang tidak melulu bahaya kalau dikelola dengan benar, green, memperhatikan wawasan lingkungan sekitar. Tambang bisa memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat,” kata Boyke pada acara media gathering di Denpasar, Kamis 18 Oktober 2018.

BACA JUGA: Pertagas Niaga Dukung Pemprov Bali Jadi Pulau Ramah Energi

Pada acara yang mengambil tema ‘Pengenalan dan Silaturahmi PT Bumi Suksesindo dengan Media Bali 2018’ itu ia melanjutkan, perusahaannya diberikan izin untuk mengelola kawasan seluas 4.998 hektar di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

Diakuinya, jarak pengelolaan areal PT BSI tak terlalu jauh dengan keberadaan obyek wisata Pulau Merah. Kendati begitu, keberadaan perusahaannya sama sekali tak merusak keindahan alam Pulau Merah.

BACA JUGA: Biaya Pengabenan Mahal, Asuransi AXA Mandiri Laris Manis di Bali

“Sekalipun ada tambang, kita tidak mengganggu obyek wisata Pulau Merah. Sebaliknya, kita hidup berdampingan sebagai ‘tetangga yang baik’,” katanya mengistilahkan.

Tambang, ia melanjutkan, tak bisa dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. Bahkan, katanya, jauh sebelum manusia mengenal peradaban, tambang sudah terlebih dahulu ada.

BACA JUGA: Transformasi Industri 4.0, Indonesia Fokus Ekonomi Digital

Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya perkakas dan alat berburu manusia pra sejarah yang terbuat dari batuan, besi, tembaga dan lain sebagainya.

“Itu juga bagian dari tambang. Di dunia ini, mulai dari cincin hingga handpone itu tambang. Yang kita lihat sekarang di banyak media, tambang itu merusak. Itu yang harus diawasi,” papar dia.

BACA JUGA: Gubernur Optimis IMF-World Bank Katrol PDRB Bali

Di sisi lain, ia menjelaskan jika PT BSI secara aktif mengambil inisiatif dalam berbagai program pengembangan ekonomi daerah dan nasional.

Berbagai terobosan yang diambil itu memberi manfaat dan dampak positif bagi masyarakat. Salah satunya adalah program hibah kepemilikan saham kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi sebagai salah satu pemegang saham terbesar di tambang Tumpang Pitu.

BACA JUGA: Delegasi IMF-World Bank Kepincut Batik Indonesia

Tak hanya nilai saham yang terus meningkat, sebagai pemegang saham Pemkab Banyuwangi ikut mendorong lahirnya berabgai program CSR yang menguntungkan masyarakat.

“Secara finansial, kontribusi tambang Banyuwangi juga terus meningkat sejalan dengan aktivitas penambangan dan produksi yang bertambah. Kami memiliki komitmen jangka panjang untuk kemajuan Banyuwangi,” tegas Boyke.

BACA JUGA: Koster Akan Larang Penggunaan Kantong Plastik

PT BSI, Boyke melanjutkan, juga meraih penghargaan sebagai wajib pajak kontributor terbaik tahun 2017 dari Kantor Pajak DJP Jawa Timur III KPP Pratama, Banyuwangi.

PT BSI juga meraih penghargaan pemberi kontribusi besar terhadap penerimaan pajak KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu, Jakarta Selatan.

BACA JUGA: Rai Wirajaya Sambut Baik Kesepakatan Global Soal Fintech

PT BSI juga menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) secara aktif dan telah menjangkau sekitar 42 ribuan warga, khususnya yang berada di Kecamatan Pesanggaran, di mana lokasi tambang emas Tumpang Pitu berada.

“Ada empat bidang fokus CSR kami yaitu kesehatan, pendidikan, pengembangan UMKM dan pembangunan infrastrukur. Sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan, PT BSI telah menjalankan program rehabilitasi yang mencapai total lahan seluas 21,08 hektar,” ujarnya.

“Soal tenaga kerja, termasuk seluruh karyawan dan kontraktor saat ini berjumlah 1.795 orang, terdiri dari 99 persen warga negara Indonesia dan 1 persen ekspatriat. Dari angkatan kerja, 60 persen berasal dari Banyuwangi, termasuk sekitar 38 persen dari Kecamatan Pesanggaran,” tambahnya. (ban)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Populer

To Top