Bisnis

Pendapatan Bali Hilang Rp5 T Akibat ‘Jual Beli Kepala’ Turis

Ketua GIPI Provinsi Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana (ban)

Kabarbali.com – Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Provinsi Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana memaparkan data mencengangkan pada industri pariwisata Bali.

Katanya, akibat praktik ‘jual beli kepala’ yang terjadi selama ini, potential lost atau potensi pendapatan yang hilang mencapai Rp5 triliun per tahunnya.

BACA JUGA: NasDem Todong KPU Badung Pemilih Tambahan di Kuta

Ia menjelaskan, saban hari sekitar tiga ribu wisatawan asal Tiongok berlibur ke Pulau Bali. Dari jumlah tersebut, mayoritas atau sekitar 60 persen datang dalam bentuk grup yang dikoordinir oleh tour guide.

Sialnya, tour guide ini sering mempraktikkan ‘jual beli kepala’ turis Tiongkok. Pada saat sama, mereka juga ‘menjual’ pariwisata Bali dengan harga murah. Rp600 ribu sudah bisa menginap di Bali selama lima hari empat malam.

BACA JUGA: Cara Kejagung Tangkal Praktik Koruptif Sejak Dini

Akibat praktik ‘jual beli kepala’ itu, Agung Partha menyebut ada potential lost senilai Rp5 triliun tiap tahunnya. “Jual beli kepala sumber masalah. Rp5 triliun per tahun potential lost-nya. Ini hitungan kasar saja. Kita dirampok tiap tahun segitu,” kata Agung Partha, Selasa 23 Oktober 2018.

Ia menjelaskan praktik jual beli kepala yang dimaksudnya. Dari jumlah ribuan wisatawan Tiongkok yang berlibur ke Bali dan dikoordinir oleh travel, satu orang diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar US$100.

BACA JUGA: Malaysia-Bali Tertarik Kerja Sama di Bidang Pendidikan

“Dari 3.000 turis Tiongkok yang datang setiap hari, 1.000-1.500 akan berbelanja. Dia masuk ke lima toko maka menjadi US$500 travel dapat keuntungan sekitar 60 persennya. Inilah praktik jual beli kepala yang merugikan kita,” papar dia.

Parahnya, kata Agung Partha, praktik demikian sudah terjadi lama, tepatnya sejak tahun 2001. “Ini tidak benar. Pulau saya (Pulau Bali) dibeginikan, ini tidak benar,” ucapnya.

BACA JUGA: Pelaku UKM Uzbekistan Jajaki Kerja Sama dengan Bali

Ia pun telah berkomunikasi dengan Konsulat Jenderal Tiongkok dan Pemprov Bali, dalam hal ini Wakil Gubernur Provinsi Bali, Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace.

“Saya sudah lapor ke wagub, untuk menyelesaikan. ‘Jual beli kepala larang’ saja, beres persoalan ini. Toh, hanya segelintir orang saja yang menikmati, tapi kita dirugikan sedemikian besar,” katanya.

BACA JUGA: Puluhan Warga Denpasar Belum Masuk DPT

Ia mengambil contoh bagaimana Thailand berhasil menghentikan praktik culas ‘jual beli kepala’ turis. Pada tahun 2016, hanya dalam waktu satu bulan Negeri Gajah Putih itu berhasil memutus mata rantai ‘jual beli kepala’. Kini, katanya, turis yang datang ke Thailand lebih berkualitas.

“Kalau toko-toko sudah tidak ada yang mau kasih uang, tidak akan ada feed back untuk travel. Spending kita rendah, sekitar US$900 untuk empat malam lima hari. Sementara Thailand spending-nya US$1.200. Australia mencapai US$10 ribu,” ujarnya. (ban)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Populer

To Top