Bisnis

Menaker Sebut 52,6 Juta Lapangan Kerja Akan Tergantikan Mesin

Menaker Hanif Dakhiri (ckl)

Kabarbali.com – Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri membuka Forum Hubungan Industrial 2018 dengan tema “Penguatan Dialog Sosial Menghadapi Tantangan di Era Revolusi Industri 4.0”.

Pada kesempatan itu, Hanif menilai revolusi industri 4.0 yang dimotori inovasi otomasi, super computer, robot, artificial intelligence dan modifikasi genetik telah membawa perubahan di berbagai bidang, salah satunya memunculkan ekonomi berbasis digital.

BACA JUGA: GARBI Optimis Tahun 2030 Indonesia Jadi Negara Adidaya

Menurut Hanif, bila kita mampu memanfaatkan potensi ekonomi digital dengan sebaik-baiknya, maka Indonesia berpeluang menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru dunia.

Hal itu mengingat tingginya pengguna jaringan internet di Tanah Air yang menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 mencapai sekitar 143 juta penduduk.

BACA JUGA: Pemerintah Akan Buat Taman Terumbu Karang di Nusa Dua

“Pemanfaatan teknologi digital turut berdampak positif dalam mendorong tumbuhnya generasi milenial menjadi pemimpin dalam e-commerce, startup dan pengembangan ekonomi digital lainnya,” kata Hanif di Sanur, Denpasar, Senin 8 Oktober 2018.

Di samping itu, pada tahun 2020 Indonesia akan mulai memasuki fase bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia non produktif. Puncaknya diperkirakan terjadi pada tahun 2030-2035.

BACA JUGA: 34 Ribu Delegasi Konfirmasi Kehadiran di IMF-World Bank

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa digitalisasi ekonomi juga berdampak terhadap perubahan dan pergeseran tenaga kerja.

“Hasil studi McKinsey (2016) menyebutkan bahwa dalam 5 tahun ke depan sebanyak 52,6 juta lapangan pekerjaan akan tergantikan oleh otomatisasi yang mengikuti global trend, di mana 60 persen pekerjaan akan mengadopsi sistem otomatisasi dan 30 persen akan menggunakan mesin berteknologi digital,” sebut Hanif.

BACA JUGA: Strategi ‘Tusuk Sate’ Hanura Rebut Satu Fraksi DPRD Badung

Di sisi lain, Hanif menilai teknologi digital juga menciptakan 3,7 juta pekerjaan baru dalam 7 tahun ke depan dan mayoritas berada pada sektor usaha jasa.

Penyiapan tenaga kerja terampil (skill worker) adalah tantangan terbesar yang harus dihadapi dan dimitigasi secara tepat dalam menghadapi tantangan ekonomi digital. Untuk itu, Kementerian Ketenagakerjaan telah melakukan langkah-langkah terobosan guna memperkuat akses pelatihan kerja.

BACA JUGA: Mengenal Ormas GARBI dan Cita-cita Indonesia Adidaya

Ada tiga hal yang dilakukan oleh Kementerian Ketenagakerjaan. Pertama, modernisasi Balai Latihan Kerja (BLK) dengan program revitalisasi, rebranding dan re-orientasi.

Kedua, pengembangan program magang yang mengacu pada kebutuhan pasar kerja berbasis teknologi digital dan didukung kurikulum sesuai Standar Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan standar internasional.

BACA JUGA: Bangun Bangsa, Eks Kader PKS Bali Deklarasi Ormas GARBI

Ketiga, penataan sistem pasar kerja fleksibel melalui kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha. Hanif melanjutkan, tatanan hubungan industrial juga harus mampu merespon dampak perubahan yang ditimbulkan ekonomi digital.

Ia menilai terdapat beberapa langkah strategis yang harus diupayakan. Pertama, penyiapan regulasi bidang hubungan industrial yang adaptif terhadap perubahan ekonomi digital.

BACA JUGA: Jokowi Center Klaim PAN Gianyar dan Badung Alihkan Dukungan

Kedua, penyiapan mediator hubungan industrial yang berintegritas, profesional dan inovatif sebagai pembina hubungan industrial sekaligus ujung tombak penyelesaian perselisihan hubungan industrial.

Ketiga, pengembangan dialog-dialog sosial bipartit dan tripartit untuk mengatasi permasalahan dan sengketa hubungan industrial. (ckl)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Populer

To Top