Siapa Dia

Kadek Dwi Yustiawati, Srikandi Nusa Penida Siap Ngayah untuk Pembangunan Klungkung

Ni Luh Kadek Dwi Yustiawati Caleg PDIP untuk DPRD Bali dapil klungkung (ist)

Kabarbali.com – Ni Luh Kadek Dwi Yustiawati, SE mungkin belum banyak yang tahu sosok srikandi asal Nusa Penida ini. Muda, cerdas, dan sukses, itulah gambaran wanita kelahiran Jimbaran 11 Desember 1992. Di usianya yang masih belia ini, Kadek Dwi sudah terjun ke politik melalui PDI Perjuangan.

Tak tanggung-tanggung, istri dari Ketut Lea Wijaya ini menerobos masuk daftar bakal calon anggota legislatif dari PDI Perjuangan. Bercokol di nomor urut 3 daerah pemilihan Kabupaten Klungkung, Kadek Dwi membidik kursi di DPRD Provinsi Bali.

BACA JUGA: Mengintip Bakti Ketut Leo dan Keluarga untuk Nusa Penida

Dari segi finansial, Kadek Dwi tergolong mapan karena sukses membangun bisnis properti bersama suami. Motivasinya hanya satu, mengabdikan diri untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Klungkung. Jauh sebelum berkiprah di politik, Kadek Dwi bersama suami sudah banyak melaksanakan kegiatan sosial untuk membantu masyarakat, seperti membangun sejumlah tempat suci, khususnya di wilayah Nusa Penida.

Semua dana diambil dari kantong pribadi, disisihkan dari usaha properti yang dijalankannya. Ditemui beberapa waktu lalu di kediamannya di Banjar Sental Kangin, Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida, pertama-tama Kadek Dwi mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, jajaran DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Klungkung, jajaran PAC, Ranting hingga anak Ranting se-Kabupaten Klungkung yang telah memberikan kepercayaan pada dirinya menjadi bakal calon anggota legislatif DPRD Bali.

BACA JUGA: Jadi Caleg PDIP, Kadek Dwi Siap Perjuangkan Anggaran Pembangunan Klungkung

Terjun ke politik lantaran ‘jengah’ melihat kondisi daerahnya, khususnya di Nusa Penida. “Nusa Penida itu saya ibaratkan mutiara terakhir yang dimiliki Bali. Potensinya sangat luar biasa, tapi belum digarap secara maksimal,” katanya.

Kesenjangan pembangunan Klungkung daratan dengan kepulauan, juga menjadi perhatiannya. Perempuan berkacamata ini juga tak bisa menutup mata dengan kesulitan yang dialami sebagian besar warga di Kecamatan Nusa Penida. Air, listrik, fasilitas kesehatan, akses pendidikan, kesulitan komunikasi karena keterbatasan jaringan seluler menjadi masalah klasik yang selama bertahun-tahun belum terpecahkan.

Meski diakuinya dalam beberapa tahun terakhir sudah ada perubahan untuk pembangunan infrastruktur jalan, akan tetapi masih banyak ruas jalan yang mengalami kerusakan, termasuk akses jalan menuju obyek-obyek wisata.

BACA JUGA: Bantu Bangun Pura Sejak Usia 20 Tahun, Ini Kisah Inspiratif Ketut Leo dan Keluarga

“Minat wisatawan berkunjung ke Nusa Penida, Nusa Lembongan, Nusa Ceningan sebenarnya sangat besar, akan tetapi belum didukung dengan sarana-prasarana serta akomodasi yang memadai. Jalan menuju obyek masih rusak, dermaga untuk sandar kapal-kapal cepat juga sangat jauh dari kata memadai,” tegasnya.

Padahal, jika Nusa Penida dikelola dengan baik serta didukung infrastruktur yang memadai akan menjadi mesin uang untuk meningkatkan pendapatan asli daerah Kabupaten Klungkung. Secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Klungkung dan Nusa Penida pada khususnya.

Dirinya menyadari kecilnya pendapatan daerah Kabupaten Klungkung sangat mustahil bisa menyelesaikan permasalahan tersebut sendiri. Dalam APBD Kabupaten Klungkung tahun 2018 pendapatan daerah hanya sekitar Rp1,09 triliun lebih meliputi Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya Rp152 miliar lebih.

BACA JUGA: Siap Ngayah, I Made Satria Dorong Pembangunan Infrastruktur Nusa Penida

Karena pembiayaan dari APBD juga untuk kegiatan-kegiatan rutin seperti belanja pegawai dan kegiatan lain. “Harus jujur, Kabupaten Klungkung tidak bisa membangun sendiri wilayahnya hanya dengan mengandalkan PAD. Harus ada dukungan anggaran dari pemerintah di atas, baik Pemerintah Provinsi Bali maupun pemerintah pusat untuk percepatan pembangunan di Klungkung,” tandasnya.

Di sinilah menurutnya dibutuhkan diplomasi politik dan kedekatan dengan pemerintah di atas. Seperti diketahui, Gubernur Bali terpilih melalui Pilgub lalu, Wayan Koster dan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) notabene adalah kader PDI Perjuangan.

“Saya selaku warga Klungkung akan menggunakan akses politik yang saya miliki sebagai kader PDI Perjuangan. Jika nanti saya mendapat kepercayaan masyarakat, saya akan berjuang dan berdiplomasi di DPRD Bali agar Klungkung mendapatkan prioritas alokasi dana, program atau kegiatan dari Pemerintah Provinsi Bali maupun pemerintah pusat,” katanya.

Terakhir, dirinya secara tulus memohon doa dan dukungan seluruh masyarakat dan siap ‘ngayah’ untuk untuk kemajuan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Klungkung. (hms)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Populer

To Top