Peristiwa

Epidemiologi Percepat Realisasi SDGs

Defriman Djafri (ban)

Kabarbali.com – Ratusan ahli kesehatan masyarakat berkumpul di Prime Plaza Hotel Sanur, Bali. Mereka menghadiri forum The 13th SEA Regional Scientific Meeting of the International Epidemiological Association.

Executive Chairman The 13th SEA Regional Scientific Meeting of the International Epidemiological Association, Defriman Djafri menjelaskan, pada petemuan yang dirangkai dengan ‘International Conference on Public Health and Sustainable Development’ itu Indonesia, dalam hal ini Universitas Andalas bersama Universitas Udayana diberi kepercayaan menjadi host ke-13 event tersebut.

BACA JUGA: Mengintip Fasilitas Megah KRI dr Suharso-990

Salah satu fokus yang dibahas dalam pertemuan itu adalah upaya mendorong realisasi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pada titik itu, Defriman menilai epidemiologi menjadi hal yang sentral.

“Jadi, indikator-indikator Sustainable Development Goals/SDGs itu dengan menggunaka evident base. Nah, evident base ini salah satu fungsi epidemiologi yaitu, menyiapkan data akurat di lapangan bagaimana mencapai indikator SDGs. Kadang-kadang data dan fakta di lapangan kadang tidak cocok,” kata Defriman di Sanur, Denpasar, Rabu 3 Oktober 2018.

BACA JUGA: Orientation Zone, Ruang ‘Menghilangkan’ Stres di Bandara Ngurah Rai

Peran epidemiologi, ia melanjutkan, lebih menekankan kepada persiapan evident base untuk membuat kebijakan sesuai fakta di lapangan.

“Salah satu fokus pembahasan adalah penyakit yang seharusnya sudah lama tidak ada, tapi muncul lagi. Strateginya adalah bagaimana penyakit ini bisa dicegah,” ujarnya.

BACA JUGA: Cara Hiswana Migas Jamin Pasokan LPG 3 Kg Tetap Lancar

Dalam konteks dalam negeri, hal ini yang kemudian menyebabkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mengalami defisit anggaran. Maka dari itu, Defriman menilai harus ada upaya kuat untuk mencegah BPJS mengalami defisit anggaran ke depannya.

Salah satu solusi yang bisa menjadi obat penawar defisit BPJS adalah dengan mendorong epidemiologi sebagai upaya deteksi awal sebuah penyakit. Sebab, kata dia, beberapa penyakit justru menjadi beban dan penyebab bangkrutnya BPJS Kesehatan.

BACA JUGA: Revisi UU Provinsi Bali Sudah Masuk Prolegnas

“Seperti penyakit jantung, hipertensi, kanker dan lainnya. Strateginya yang harus dikedepankan adalah bagaimana supaya penyakit itu bisa dicegah. Pencegahan itu public health. Sebab kalau tidak begitu, cost-nya pasti lebih besar,” kata Defriman.

Dengan kata lain, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas itu melanjutkan, untuk mencegah defisit anggaran BPJS harus dimulai dengan pencegahan penyakit di hulu, bukan pengobatan di hilir.

BACA JUGA: Koster Ancam Cabut Izin PLTU Celukan Bawang, Ini Alasannya

“Yang perlu itu di hulunya, bukan di hilirnya. Di sinilah peran epidemiologi sebagai bentuk kesehatan masyarakatnya. Seharusnya dana BPJS itu difokuskan pada sisi kesehatan masyarakat, bukan penyakitnya. Itu kalau kita bicara jangka panjang,” papar dia.

Epidemologi, Defriman menjelaskan, merupakan ilmu yang memepelahari tentang bagaimana distribusi dan juga pencegahan penyakit. “Dulu namanya ilmu wabah, tapi pengertiannya terlalu sempit. Epidemiologi tidak hanya bicara penyakit saja, tapi juga bagaimana berupaya dalam pencegahan dan pengambilan kebijakan,” papar dia. (ban)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Populer

To Top